Di Ambang Pengampunan yang Kelu (Puisi)

Karya : Natalia Novi Titu Pango, S.Pd, M.Pd Kamis, 14 Mei 2026

Bagaimana cara jemariku mengepal geram,

‎jika di wajahmu, masih kulihat sisa teduh yang pernah kucintai?

‎Engkau adalah tangan yang meruntuhkan duniaku,

‎namun engkau pula yang pernah menjadi bagian dari napas hariku.

‎Ayah kini telah menjadi sunyi,

‎ia berangkat membawa separuh nyawaku dalam senyap.

‎Logika dunia memintaku untuk mengutuk namamu,

‎membangun tembok kebencian setinggi langit yang mendung.

‎Namun, di dalam rongga dada yang retak ini,

‎amarah itu luluh sebelum sempat menjadi bara.

‎Ada sebuah ikatan yang terlalu akar untuk kucabut,

‎sebuah kenangan yang terlalu jernih untuk kukotori dengan dendam.

‎Aku berdiri di antara nisan yang dingin

‎dan kehangatan masa lalu yang masih tersisa padamu.

‎Tuhan, barangkali inilah duka yang paling purba:

‎ketika kehilangan menuntut sebuah amarah,

‎namun nurani justru memilih untuk membasuh luka.

‎Aku tidak membencimu,

‎bukan karena perbuatanmu tak menyakitkan,

‎tapi karena jika aku membencimu,

‎aku akan kehilangan dua orang sekaligus dalam satu waktu.

‎Biarlah doa yang bicara,

‎ketika kata-kata manusia tak lagi sanggup menanggung pedihnya.

Menu