Bagaimana cara jemariku mengepal geram,
jika di wajahmu, masih kulihat sisa teduh yang pernah kucintai?
Engkau adalah tangan yang meruntuhkan duniaku,
namun engkau pula yang pernah menjadi bagian dari napas hariku.
Ayah kini telah menjadi sunyi,
ia berangkat membawa separuh nyawaku dalam senyap.
Logika dunia memintaku untuk mengutuk namamu,
membangun tembok kebencian setinggi langit yang mendung.
Namun, di dalam rongga dada yang retak ini,
amarah itu luluh sebelum sempat menjadi bara.
Ada sebuah ikatan yang terlalu akar untuk kucabut,
sebuah kenangan yang terlalu jernih untuk kukotori dengan dendam.
Aku berdiri di antara nisan yang dingin
dan kehangatan masa lalu yang masih tersisa padamu.
Tuhan, barangkali inilah duka yang paling purba:
ketika kehilangan menuntut sebuah amarah,
namun nurani justru memilih untuk membasuh luka.
Aku tidak membencimu,
bukan karena perbuatanmu tak menyakitkan,
tapi karena jika aku membencimu,
aku akan kehilangan dua orang sekaligus dalam satu waktu.
Biarlah doa yang bicara,
ketika kata-kata manusia tak lagi sanggup menanggung pedihnya.

