IHT SMA Negeri 1 Waikabubak: Membangun Pembelajaran Mendalam Berbasis Digital untuk Pendidikan yang Kreatif dan Inovatif

IHT SMA Negeri 1 Waikabubak menjadi momentum untuk terus bergerak, bertumbuh, dan melakukan pembenahan demi peningkatan kualitas pendidikan

SMA Negeri 1 Waikabubak melaksanakan In House Training (IHT) selama tiga hari, pada 30 September–2 Oktober 2026, dengan mengusung tema “Membangun Pembelajaran Mendalam Berbasis Digital untuk Meningkatkan Kualitas Pengajaran dan Minat Belajar Murid.” Kegiatan ini menjadi ruang bagi para guru untuk memperkuat kompetensi dan mengembangkan strategi pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman. Melalui IHT, para pendidik diajak untuk memadukan teknologi digital dengan pembelajaran yang bermakna, kontekstual, dan berpusat pada murid. Transformasi pendidikan tidak hanya berbicara tentang penggunaan teknologi, tetapi juga tentang bagaimana guru mampu menghadirkan pengalaman belajar yang mendorong murid untuk berpikir, berefleksi, dan berkembang. Semangat kolaborasi dan peningkatan kualitas menjadi fondasi utama dalam setiap rangkaian kegiatan IHT.

Dalam sambutan pembukaan, Kepala SMA Negeri 1 Waikabubak, Paulinus Sukur, S.Pd., M.M. menekankan pentingnya prinsip IRB: Identifikasi, Refleksi, dan Benahi. Identifikasi berarti guru perlu mengenali berbagai kelemahan dan tantangan yang masih ditemukan dalam proses pembelajaran. Selanjutnya, refleksi dilakukan untuk melihat kembali proses pembelajaran yang telah dilaksanakan, termasuk hal-hal yang sudah baik maupun yang masih perlu ditingkatkan. Setelah itu, langkah pembenahan menjadi bagian penting agar proses pembelajaran berikutnya dapat berlangsung lebih efektif dan memberikan dampak positif bagi murid. Beliau juga menegaskan bahwa secanggih apa pun modernisasi dan teknologi pendidikan, hal tersebut tidak akan pernah menggantikan peran guru di dalam kelas, karena guru adalah role model dalam dunia pendidikan.

Sementara itu, Kepala Kantor Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Sumba dalam sambutannya menekankan pentingnya transformasi dalam setiap kegiatan pendidikan, khususnya dalam proses pembelajaran di sekolah. Setiap sekolah dan setiap guru perlu terus melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pendidikan. Refleksi menjadi langkah penting untuk menemukan berbagai hal yang perlu diperbaiki, dikembangkan, dan disesuaikan dengan kebutuhan murid. Dengan budaya refleksi yang terus dibangun, kualitas pendidik dalam suatu sekolah diharapkan semakin maju serta mampu menghadirkan pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Transformasi tersebut pada akhirnya diharapkan mampu melahirkan proses pembelajaran yang lebih bermakna dan relevan bagi perkembangan murid.

Hari pertama kegiatan diawali dengan materi dari Bapak Nggala Hamba Ndima, S.Pd. yang membahas “Perbedaan Pembelajaran Konvensional dan Pembelajaran Mendalam.” Materi ini mengajak peserta memahami pergeseran paradigma pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga pada proses belajar yang bermakna dan mendalam. Peserta mendapatkan wawasan tentang pentingnya menciptakan pengalaman belajar yang lebih aktif, kontekstual, dan berpusat pada peserta didik.

Sesi berikutnya disampaikan oleh Pengawas SMA, SMK, dan SLB Kabupaten Sumba Barat, Ibu Adriana M. Ngongo, S.Pd., M.Pd.K. dengan materi “Guru sebagai Fasilitator, Bukan Satu-Satunya Sumber.” Melalui materi ini, peserta diajak melihat peran guru sebagai pendamping dan fasilitator yang mampu mendorong peserta didik untuk aktif mencari, menemukan, dan membangun pengetahuannya sendiri. Pembelajaran pun diharapkan menjadi ruang yang mendorong kreativitas, kemandirian, kolaborasi, serta keterlibatan aktif peserta didik.

Menutup rangkaian materi hari pertama, Bapak Dr. Sudayat, M.Pd. menyampaikan materi “Penerapan Pembelajaran Mendalam dalam Kegiatan Belajar Mengajar di Dalam Kelas.” Materi ini memberikan gambaran praktis mengenai bagaimana prinsip pembelajaran mendalam dapat diterapkan dalam proses pembelajaran agar peserta didik tidak sekadar memahami materi, tetapi mampu mengaitkan, menerapkan, dan merefleksikannya. Hari pertama menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman dan semangat para pendidik dalam menghadirkan pembelajaran yang bermakna, relevan, dan berpusat pada peserta didik.

Selama tiga hari pelaksanaan IHT, para guru SMA Negeri 1 Waikabubak mendapatkan ruang untuk belajar, berdiskusi, berbagi pengalaman, serta mengembangkan berbagai gagasan pembelajaran berbasis digital. Pembelajaran mendalam menjadi salah satu pijakan penting agar teknologi tidak sekadar digunakan sebagai alat bantu, tetapi benar-benar mendukung keterlibatan dan minat belajar murid. Guru didorong untuk terus mengeksplorasi pendekatan, media, dan strategi pembelajaran yang kreatif sesuai dengan karakteristik serta kebutuhan peserta didik. Semangat untuk mencoba hal baru menjadi bagian dari proses menuju pembelajaran yang lebih inovatif dan bermakna. Dengan kolaborasi yang kuat, diharapkan hasil IHT dapat diimplementasikan secara nyata dalam pembelajaran di kelas.

IHT SMA Negeri 1 Waikabubak menjadi momentum untuk terus bergerak, bertumbuh, dan melakukan pembenahan demi peningkatan kualitas pendidikan. Identifikasi, Refleksi, dan Benahi menjadi pengingat bahwa perubahan dalam pendidikan dimulai dari kemauan untuk melihat, mengevaluasi, dan memperbaiki praktik pembelajaran secara berkelanjutan. Teknologi dapat menjadi kekuatan dalam pembelajaran, tetapi sentuhan, keteladanan, kreativitas, dan peran guru tetap menjadi bagian yang tidak tergantikan. Mari bersama membangun pembelajaran mendalam berbasis digital yang mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, kreativitas, dan minat belajar murid. SMA Negeri 1 Waikabubak, terus bertransformasi untuk pendidikan yang lebih berkualitas, kreatif, inovatif, dan bermakna.

Menu